Selasa, 29 Desember 2009

BAB XI PEKERJAAN M & E

BAB XI
PEKERJAAN M & E



XI.1. PLUMBING

Fungsi dan tujuan :
Menciptakan suatu bangunan yang memenuhi kesehatan dan sanitasi yang baik
dengan suatu sistem pemipaan yang dapat mengalirkan air bersih ketempat
tempat yang dituju dan membuang air kotor ke saluran pembuang tanpa mence -
mari bagian penting lainnya dengan tidak melupakan kenyamanan dan keindahan.

Sistem plumbing yang dikenal meliputi :
1. Saluran air bersih : - Saluran KM/WC
- Saluran Penampungan Air
- Saluran Pemadam Kebakaran

2. Saluran air kotor : - Saluran pembuangan dari KM/Wc
- Saluran pembuang air hujan
- Saluran Kotor WC ke Septictank

3. Saluran Gas dan udara

Bahan yang umum digunakan adalah dari besi/baja dengan lapisan galvanis, plastik, pvc,
porselin dan dari beton betulang.
Bahan harus memenuhi syarat tidak menyerap air, mudah dibersihkan, tidak berkarat atau
mudah aus.
Untuk instalasi air bersih maupun air kotor dalam bangunan kecuali instalasi air panas
biasa digunakan pipa PVC, pipa ini dapat dibagi (bila tidak ada spesifikasi khusus) :

1. Berdasarkan typenya ( ketebalan ) :
a. Type AW
Untuk pipa dengan kawalitas yang paling baik ( tebal ).
Biasanya digunakan untuk saluran air bersih / air minum yang mempunyai kekuatan
tekan yang cukup tinggi.
b. Type D
Untuk pipa kwalitas sedang dengan tebal medium.
Biasanya digunakan untuk saluran pembuang, seperti saluran air hujan, saluran pem-
buangan bekas cuci / mandi, saluran septictank, dsb.
c. Type C
Untuk pipa dengan kwalitas paling rendah (tipis).
Digunakan untuk sparing-sparing listrik yang tertanam dalam dinding.

2. Ukuran diameter penampang pipa.
a. Untuk saluran air bersih digunakan ukuran 1/2", 3/4", 1", 1,5".
b. Untuk saluran pembuang digunakan ukuran 1", 1,5" 2", 3", 4", 5".

Merek-merek yang di pasaran contohnya : Wavin, Rucika, Maspion, Pralon, Impralon, Dexlon.

XI.1.1. METODE PELAKSANAAN

A. Instalasi Air bersih :
1. Hal yang perlu diketahui terlebih dahulu adalah denah Plumbing serta Diagram
Isometri dimana dapat diketahui jalur-jalur instalasi pipa itu diletakkan.
2. Pemasangan pipa dilaksanakan setelah pasangan bata dan sebelum pekerjaan
plesteran dan acian, fungsi untuk menghindari bobokan yang menyebabkan kere-
takan dinding. (Untuk instalasi dalam bangunan).
3. Untuk pemasangan di luar bangunan seperti pipa saluran air hujan dikerjakan
setelah pekerjaan plesteran diselesaikan.
4. Pipa yang melewati plat dak atau balok atau kolom beton harus dipasang sparing
atau pemipaan terlebih dahulu sebelum dilaksanakan pengecoran.
5. Pipa yang posisi/letaknya sudah betul segera ditutup dengan plug/dop yang tidak
mudah lepas (menghindari kotoran/adukan masuk sehingga terjadi penyumbatan).
6. Hindari belokan pipa/ knik pipa dengan pembakaran.
7. Posisi pipa pada kamar mandi harus disesuaikan dengan saniter
8. Rencana instalasi air bersih diletakkan pada perempatan nat keramik / as
keramik, simetris dengan luas keramik.
9. Setelah instalasi terpasang segera diadakan test tekanan pipa :
- Untuk pipa Gip maximum 10 Bar
- Untuk pipa PVC maximum 6 Bar

B. Instalasi air Kotor
1. Hal yang perlu diketahui :
Denah instalasi dan diagram isometris pipa air kotor serta jalur pembuangan.
2. Hindari /jangan terlalu banyak percabangan.
3. Sambungan harus betul-betul rapat.
4. Untuk air bekas (mandi/cuci) harus dibuat Manhole untuk kontrol pembersihan (bak
kontrol) pada tempat-tempat tertentu.
5. Untuk lubang saluran pembuang harus diberi saringan.
6. Sparing harus melebihi rencana peil lantai beton & tebal beton.
( diatas plat = 25 cm, dibawah plat = 15 cm ), bagian atas supaya ditekuk atau
digepengkan / ditutup dengan cara dipanaskan.
7. Posisi sparing harus sesuai dengan type saniter (jika saniter telah ditentukan).
8. Jika saniter belum ditentukan , dipakai sistem Block Out.
9. Sparing Clean out harus dipasang bersamaan dengan sparing closet (bila ada), di -
mana letak sparing clean out berada di samping atau dekat dengan sparing closet,
fungsinya adalah untuk pembersihan apabila closet terjadi penyumbatan.
10. Fan out dipasang bila dalam instalasi saluran kotor banyak percabangan dengan
saluran pembuangannya lewat shaft. Fungsinya untuk mengurangi tekanan udara
pada pipa pada saat closet di gelontor dengan air.
11. Floor drain supaya diletakkan jauh dari pintu dan dekat dengan kurasan bak.











C. Saluran Air Hujan.
1. Pipa diletakkan persis dibawah lobang talang yang telah diberi torong talang.
2. Pipa saluran air hujan dapat dipasang menempel di dinding luar dengan mengguna-
klem atau dapat ditanam di dinding bila berukuran < 2 ".
3. Bila saluran pembuang air hujan berupa saluran tertutup harus dibuat bak kontrol pa-
da pertemuan pipa air hujan dengan saluran pembuang.
4. Bila terdapat sambungan, arah shock harus sebelah atas, dan penyambungannya
harus benar-benar kuat.
















D. Saluran Pipa Wc ke Septictank
1. Pipa saluran dari closet menuju ke septictank harus diperhatikan kemiringannya, ka-
rena kemiringan pipa dapat memperlancar penyaluran kotoran apabila digelontor
dengan air, kemiringan minimal 2 %.
2. Pipa sebaiknya dipergunakan kwalitas yang baik atau minimal type D.
3. Jangan ada percabangan untuk pipa yang ditanam di tanah (bangunan 1 lantai), ka-
rena bila ada penyumbatan susah untuk perbaikannya.
Untuk bangunan bertingkat (ada shaft) harus dibuat clean out dan fan out.


XI.1.2. PENYAMBUNGAN PIPA

1. Alat : Gergaji
Amplas
Lem PVC
Shell tape
Kunci Pipa
2. Untuk pipa PVC, dipotong sesuai dengan ukuran ujungnya diamplas terlebih
dahulu dan dibersihkan oleskan lem pada ujung dan dalam shock (penyambung)
segera masukkan gerakan arah lurus jangan diputar, tunggu sampai kering.
Apabila belum kering betul posisi sambungan jangan digerakkan, karena akan
menyebabkan lem yang telah dioles menjadi tidak rekat.
3. Pada sambungan pipa yang mempunyai drat terlebih dulu dibungkus sheeltape
secukupnya pada drat sisi luar baru dimasukkan drat dalam dan diputar sampai
kencang dan rapat.
4. Pada penyambungan pipa besi lebih banyak dipakai sistem drat dan las.
Untuk penyenaian pipa minimum 4 baris/alur/drat.


XI.2. ELEKTRIKAL / PEKERJAAN LISTRIK

Pengertian dan fungsi :
Suatu sistem instalasi/jaringan yang meliputi penerangan, instalasi daya, box pembagi
tegangan.
Material penghantar listrik adalah kabel (NYM, NYY, NYF, NYA) serta pipa baik PVC
atau besi untuk pelindung hantaran yang tertanam.
Kabel penghantar yang biasa dipergunakan adalah merek KABELINDO, SUPREME,
TRANKA, dll. Merek dapat dikenali pada pembungkus (isolasi) sepanjang kabel beserta
jenis dan jumlah kawat atau diameter kawat tembaganya.







Peralatan dan bahan listrik :
1. Panel dan kotak pembagi
2. Saklar dan zekering-zekering
3. Alat-alat ukur (voltmeter & Ampre meter)
4. MCB
5. Stop kontak / stop kontak daya
6. Lampu penerangan
7. Grounding atau pentanahan

METODE PELAKSANAAN

1. Semua hantaran (kabel) yang ditarik dalam pipa / cabelduct harus diusahakan
tidak tampak dari luar (tertanam)
2. Pemasangan pipa harus dilaksanakan sebelum pengecoran.
Pemasangan sparing-sparing listrik yang melintas di plat, balok, kolom beton
harus dipasang terlebih dahulu sebelum pengecoran, kabel diusahakan dimasuk-
kan bersamaan dengan pemasangan sparing.
3. Pipa yang dipasang pada dinding dilaksanakan sebelum pekerjaan plesteran
dan acian dikerjakan.
4. Penempatan sambungan/percabangan harus ditempatkan di daerah yang mudah
dicapai untuk perbaikan (perawatan).
5. Sambungan harus menggunakan klem / isolasi kabel supaya terlindung dengan
baik sehingga tidak tersentuh atau menggunakan lasdop dan ditempatkan pada
Te Dos.
6. Lekukan/belokan pipa harus beradius > 3 kali diameter pipa dan harus rata (untuk
memudahkan penarikan kabel).
7. Jaringan arde harus dipasang tersendiri / terpisah dengan arde penangkal petir.
- tidak boleh ada sambungan
- dihubungkan dengan elektroda pentanahan
- ditanam sampai minimal mencapai air tanah
8. Pada hantaran di atas langit-langit, harus diklem pada bagian bawah plat / balok
atau pada balok kayu rangka langit-langit.
9. Untuk hantaran/tarikan kabel yang menyusur dinding bata/beton pada shaft harus
diklem atau dengan papan dan kabeltrey bila jaringan terlalu rumit (banyak).


10. Stop kontak dan saklar.
Pemasangan stop kontak setinggi > 40 cm dari lantai, saklar dipasang setinggi
150 cm dari lantai (bila tidak ditentukan spesifikasinya).
Pemasangan stop kontak dan saklar harus rata dengan dinding.
11. Box / kotak Panel bodynya harus diarde, untuk menghindari adanya arus.


XI.3. PENANGKAL PETIR KONVENSIONAL

Pengertian :
Instalasi yang terdiri dari komponen-komponen dan peralatan-peralatan, dan secara
keseluruhan berfungsi untuk menangkal petir, dan menyalurkannya ke tanah, yang di
pasang sedemikian rupa sehingga semua bagian dari bangunan beserta isinya, atau
benda-benda yang dilindungi terhindar dari sambaran petir.
Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam merencanakan dan memasang sistem
penangkal petir, antara lain :
- keamanan secara teknis
- penampang hantaran-hantaran pembumian (grounding)
- ketahanan mekanis
- ketahanan teradap korosi
- bentuk dan ukuran bangunan yang dilindungi.
- faktor ekonomis.

Bangunan yang perlu diberi penangkal petir adalah :
- Bangunan-bangunan tinggi, seperti gedung bertingkat, menara-menara, dan cerobong
cerobong pabrik.
- bangunan penyimpanan bahan yang mudah terbakar atau meledak seperti pabrik
amunisi, gudang penyimpanan bahan peledak, gas, cairan yang mudah terbakar.
- Bangunan umum seperti gedung pertunjukan, gedung sekolah, stasiun, dll.

Bagian - bagian dari sistem penangkal petir adalah sebagai berikut :
1. Penangkap Petir
2. Penghantar Penyalur Petir
3. Penyambung penghantar-penghantar
4. Komponen logam dekat Instalasi Penangkal Petir
5. Sistem Pembumian

XI.3. 1. Penangkap Petir (Speed)

Berupa batang pejal yang ujungnya runcing (Copper) dari tembaga, baja galvanis
atau dari alumunium, ukuran diameter minimum adalah 1/2 inch, panjang 1,5 - 2 m'.
Penangkap petir dipasang pada tempat-tempat yang ujungnya runcing seperti
bubungan atap, jurai, puncak menara, cerobong asap, atau pada bangunan yang
menonjol di atap.
Rumus praktis untuk bangunan dibawah 2 lantai atau tinggi maximum 10 m,dapat
dipakai rumus :

d = 3 t dimana : d = daerah yang dilindungi
t = tinggi speed ( max = 2 m' )







t = max = 2 m



d max = d



XI.3.2. Penghantar Penyalur Petir
Adalah penghantar (Konduktor) dari tembaga dengan diameter minimal 8 mm atau
luas penampang 50 mm².
Setiap bangunan paling sedikit harus mempunyai dua buah penghantar peyalur
petir. Untuk bangunan dengan lebar lebih dari 12 meter (lebar atap bangunan) di-
perlukan paling sedikit 4 buah penghantar penyalur petir.
Penghantar penyalur petir utama sedapat mungkin simetris dengan denah dasar
bangunan. Penghantar tidak boleh diletakkan di dalam pipa talang air hujan.







25 25


XI.3.3. Penyambung penghantar-penghantar

Adalah penyambungan antar penghantar penyalur atau antar penghantar penya-
lur dengan pentanahan, atau penyalur dengan penangkap petir, antara penghan-
tar pembumian dengan elektroda pembumian.
Penyambungan harus kuat, tahan lama dan tahan terhadap pengaruh elektris dan
mekanis.
Penyambungan penghantar penyalur harus paling tidak menggunakan 2 buah
klem, penyambungan di dalam tanah harus dengan dengan 2 sekrup dengan
diameter minimum 8 mm.
Penyambungan antara penghantar pembumian yang menghubungkan sistem
pembumian dengan penghantar sambungan ukur, harus mudah dibuka kembali,
untuk tujuan pengukuran tahanan pembumian.

XI.3.4. Komponen logam dekat Instalasi Penangkal Petir

Komponen - komponen logam agar dijauhkan dari instalasi penangkal petir, bila
tidak akan menimbulkan bahaya flash over, bila ada manusia diantara benda
tersebut dan dapat menimbulkan kebakaran jika terdapat bahan yang mudah
terbakar. Masalah ini dapat dihindari dengan menjauhkan benda tersebut dengan
instalasi penangkal petir atau cara lain adalah dengan menghubungkan benda
logam tersebut.
Jarak minimum benda logam terhadap instalasi penangkal petir adalah :

D > 1/20 L --------> dimana : D = jarak logam dengan instalasi petir
L = panjang penghantar.

XI.3.5. Sistem Pembumian / Pentanahan / Grounding

Suatu sistem dengan elektroda pembumian dari logam yang ditanam di dalam
tanah yang berfungsi untuk menyebarkan arus petir ke dalam tanah.
Elektroda pembumian dari tembaga berupa silinder pejal diameter 1/2 " atau dari
baja galvanis silinder pejal diameter 1/2 ".


METODE PELAKSANAAN

1. Batang penangkap petir ( speed ) harus dipasang kokoh pada batang penyangga
secara vertikal terhadap rata air.
2. Batang penangkap petir dipasang pada titik tengah dari daerah yang dilindungi,
dan merupakan daerah yang paling tinggi atau lancip dari bangunan itu, seperti :
bubungan, jurai, cerobong asap.
3. Batang penyangga tinggi minimal 1 m dari pipa gip (tahan karat / cuaca) dan diklem
kuat dengan batang penangkap petir serta ditanam secara kokoh di kerpus atau
beton yang telah diberi angkur baut.
4. Pada batang penangkap petir dihubungkan dengan konduktor / penghantar dari
kabel tembaga (BC) diameter minimal 8 mm atau penampang 50 mm² serta di klem
secara kuat dan diklem ke bubungan setiap 25 cm ( 3 bh tiap 1 meter).
Klem dapat dibuat dari plat strip dan diberi skrup atau mur baut.
5. Konduktor/penghantar menjalar pada bubungan , bila ada belokan sudut belokan
nya harus lebih besar dari 90°.
6. Sambungan sebaiknya dihindari, tetapi bila ada sambungan harus menggunakan
klem minimal 2 buah.
7. Konduktor yang menjalar tegak di dinding harus dilindungi dengan pipa PVC dan di
klem ke dinding.
8. Kawat konduktor / penghantar yang dihubungkan dengan elektroda pentanahan
diberi pelindung dari pipa gip sepanjang penghantar tersebut di dalam tanah.
9. Penyambungan kawat konduktor dengan elektroda harus dapat dibuka kembali
untuk dapat dites kembali tahanan tanah.
10. Ketahanan tanah minimal yang diijinkan adalah 5 ohm.
11. Pada daerah elektroda yang ditanam (ditanah) sebaiknya diberi arang dan garam
untuk menjaga tahanan tanah atau untuk mengikat air tanah agar tidak cepat lari,
bila musim kemarau, serta dapat mempercepata penyebaran petir ke tanah.

1 komentar: